Pisang


Memulai bait ini dengan menahan rindu
Jika ada lelaki yang cengeng itu adalah aku
Berpikir, melamun, lalu menyesali
Kalimatku dan perbuatanku memang menyakiti

Saat kukira menjadi pisang adalah hal baik
Dengan ikhlas memberi buah lalu mati tanpa cekik
Namun lambat laun
Aku sadar, pisang bukan aku meski tubuh setipis daun

Yang kuucap tentang mengiyakan kepergianmu
Adalah murni sebuah bentuk kebohongan dariku
Dengan gagah wanita sepertimu mengutarakan rasa
Dengan payah aku menjawab dengan kata-kata

"Jika kelak pangeran menjemputmu, maka pergilah bersamanya."
Gila, mengucapnya saja membuatku lupa tentang aku siapa

Setengah tangis aku menuliskan kebodohan
Sepenuhnya bodoh aku tenggelam dalam tangisan
Bagaimana bisa aku berpura-pura setegar itu?
Sedang tertepa rindu saja lemahku merasa tak mampu

Berlebihan?
Bagiku tidak, ini adalah kecukupan

Cukup! Aku mengucapnya saja
Cukup! Aku tidak mau mengalaminya
Cukup! Aku egois dan benar-benar gila
Cukup! Cukup! Cukup, Cinta! Maaf, aku gila

Menjadi pisang bukan bermanfaat lalu mati
Dia tidak selemah matinya sang padi
Mereka berarti, tapi matinya padi jadi jerami kering oleh panas
Pisang tetap hidup dalam wujud cinta di setiap tunas

iya,
aku, bukan pisang
tapi meneladaninya dalam urusan rasa sayang
Get updates in your Inbox
Subscribe