Penjinak Rasa: Mulai dari Nol


mari mengawali kisah dengan hati yang resah
khawatir akan makan apa menjadi pemicu asa
dan sekedipan matamu yang manis itu
aku sadar bahwa aku cinta kamu


Mari mengawali pagi ini dengan sarapan ote-ote di pagi hari. Iya, namanya ote-ote kalau di daerah saya. Kalau di tempat kalian apa? Bala-bala? Bakwan goreng? ya, apapun ya. Simbol perjuangan untukku. Saat nasi pecel terlihat enak, tapi dompet belum saatnya dipalak.

Sejajar dengan ingatanku, saat kamu menantang dirimu sendiri untuk menemaniku berjuang. Di depan aku yang sedang kalut berpeluk takut, kalimatmu memang tidak membangkitkanku. Tapi, lebih dari itu. Kamu mengetuk pintu, membuka mataku. Memang. Aku masih terjatuh. Aku belum bangkit. Dan, saat aku membuka mata bersama dengan kamu ada di depannya. Aku, jatuh cinta.

Semua kalimat, bisa jadi, akan kamu bandingkan dengan dengan yang kamu sebut dunia kalian sendiri. Dan aku tidak peduli. Menjawabnya pun percuma, karena apa? Ketakutanku ada yang sama dengan milikmu. Saat kamu takut aku masih berharap tumbuhan yang tercabut itu memiliki akar yang bisa tumbuh menjadi umbi. Aku juga takut dengan sikapmu saat ketakutan itu memelukmu erat di depanku.

Diam, kah?
Marah, kah?
Nangis-- jangan ya! jangan nangis!

Aku sadar akan selalu ada rasa inginmu untuk membicarakan akar tersebut. Akar yang bagiku telah mati. Memang, aku ada benci. Tapi, tidak untuk marah atau memusuhi. Aku benci dengan kelengahanku di lini waktu itu, bersamaan dengan rasa syukur yang coba kurakit. Karena sejatinya, akar yang mati tersebut juga bagian dari hidupku. Mengantarkan aku padamu, iya padamu. Wanita yang berani mempertaruhkan diri untuk sebuah kata mulai.

Dari nol kan?
Mari mulai kisah kita, dengan yang sebelumnya adalah penyusun asa. Perakit langkan untuk satu, dua, tiga dan angka setelah nol lainnya. Terimakasih, ya.

Mari berbahagia.
Get updates in your Inbox
Subscribe